ANTAREZ CORPORATED

WELCOME TO MY BLOG

SALAM GEOGRAFI

WELCOME TO MY BLOG!!!

ENJOY THE TRIP

Senin, 19 Juli 2010

Pengertian Belajar dari Beberapa Sumber

Pengertian Belajar


1. Menurut james O. Whittaker ( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)

Belajar adalah Proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.
2. Cronchbach ( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah suatu aktifitas yang ditunjukkan oleh perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman.
3. Howard L. Kingskey ( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui praktek atau latihan.
4. Geoch( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil dari latihan.
5. Drs. Slameto ( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri di dalam interaksi dengan lingkungannya.
6. ( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur yaitu jiwa dan raga.
7. ( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999)
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif dan psikomotor.
8. ( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) halman 20
Belajar adalah suatu peoses perkembangan
9. ( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) halaman 21
Belajar adalah reoganisasi pengalaman
10. R. Gagne( Djamarah, Syaiful Bahri , Psikologi Belajar; Rineka Cipta; 1999) hal 22
Belajar adalah suatu proses untuk memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah laku
11. Thorndike ( psikologi kependidikan)
Belajar adalah asosiasi antara kesan panca indra dengan umpuls untuk bertindak.
12. J. B Watson ( djiwandono, Siti wuryani, Psikologi Pendidikan; Jakarta; grasindo; 2002 hal 129)
Belajar adalah suatu proses dari konditioning reflect ( respons) melalui pergantian dr suatu stimulus kepada yang lain
13. Thorndike ( djiwandono, Siti wuryani, Psikologi Pendidikan; Jakarta; grasindo; 2002 hal 127)
Belajar adalah proses ‘stamping in’ ( diingat), forming, hubungan antara stimulus dan respon.
14. Herbart ( swiss)
Belajar adalah suatu proses pengisian jiwa dengan pengetahuan dan pengalamn yang sebanyak-banyaknya dengan melalui hafaln
15. Menurut cronbach ( 1954) WWW. Google.com/wikipedia
Learning Is Shown By A Change In Behviour As Result Of Experience; Belajar Dapat Dilakukan Dengan Baik Dengn Jalan Mengalami
16. Menurut spears( www. Google.com)
Learning is to observe, to read. To imited, to try something themselves, to listen, to follow direction, dimana pengalaman itu dapat diperoleh dengan mempergunakan panca indra.
17. robert M. Gagne dalam buku: the conditioning of learning mengemukakan bahwa:
Learning is change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and which is not simply ascribable to process a groeth.
Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan karena proses pertumbuhan saja. Gagne berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dari luar diri dan faktor dalm diri dan keduanya saling berinteraksi.
18. Lester D. Crow and Alice Crow ( WWW. Google.com)
Belajar adalah acuquisition of habits, knowledge and attitudes. Belajar adalah upaya-upaya untuk memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan dan sikap.
19. Hudgins Cs( 1982 WWW. Google.com)
Belajar adalah suatu perubahan dalam tingkah laku, yang mengakibatkan adanya pengalaman.
20. Jung ( 1968 WWW. Google.com)
Belajar adalah proses dimana tingkah lakudari suatu organisme dimodifikasi oleh pengalaman.
21. Ngalim Purwanto ( 1992) WWW. Google.com)
Belajar adalah setiap perubahn yang relatif menetap dalam tingkah laku, yang terjadi sebagi hasil dari suatu latihan atau pengalman.
22. Dari bebrap pengertian belajar dari beberapa ahli di atas, dapat disimpulkan pengertian belajar adalah sebagai berikut:
Belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baikmelalui latihan dan pengalamn yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu

Minggu, 18 Juli 2010

Kenapa si orang merokok????

Kenapa sih orang merokok? entahlah, masing - masing punya jawaban sendiri. Ada yang karena merasa gagah, ada juga yang karena merasa bebas. Di tempat lain, orang merokok sebagai ekspresi perlawanan dan pemberontakan. Tetapi banyak juga yang merokok semata - mata karena ingin saja atau karena memang merokok itu sudah biasa. Buat yang ini, yang aneh justru yang tidak merokok.

Kalau melihat sejarah, merokok mengalami pasang surut citra dari masa kemasa. Merokok pernah dikaitkan dengan penyembahan kepada dewa dan juga penyembuhan, tetapi merokok pun sekarang mulai dianggap sebagian dari maksiat. Yang jelas, turun naiknya citra itu akhirnya ikut juga menentukan kenapa orang merokok.

Sekali lagi, selain akibat sifat dan motivasi individual, keputusan merokok juga banyak ditentukan oleh "tekanan" eksternal. Merokok akhirnya tidak hanya sebuah kegiatan yang sukarela, melainkan akibat "paksaan" lingkungan dan golongan sang zaman.

1. Rokok tanda kejantanan
Orang sering berbicara tentang tekanan teman sebaya atau peer pressure sebagai salah satu pendorong untuk merokok.
Di Indonesia mungkin hal itu masih menjadi masalah tetapi di negara yang sukses dalam upaya pencegahan merokok seperti Amerika Serikat, peer pressure justru positif karena sekarang umumnya berarti tekanan untuk tidak merokok. 
2. Wanita pun tidak ketinggalan
Wanita merokok biasanya beralasan karena stres, kemudian yang filosofisnya lagi yaitu dihubungkan dengan emansipasi wanita. Untuk Indonesia, penelitian tentang prelevansi (penyebaran) rokok dikalangan wanita yang didasarkan pada survey nasional pada 1995 menunjukan 2,6 persen wanita usia 20 tahun lebih adalah perokok.
3. Kepentingan Industri
Seperti kita ketahui bahwa selain motivasi internal, orang merokok juga karena dorongan dari luar, baik itu lingkungan, teman maupun yang lainnya.
Salah satu pihak yang dapat dikatakan giat dan rajin dalam mendorong orang untuk merokok tidak lain adalah industri rokok itu sendiri. Alasannya sangat jelas seperti alasan yang berlaku diindustri lainnya yaitu keuntungan. 
Industri melakukan pengaruh besar kepada masyarakat untuk merokok melalui iklan dan kampanye yang memang gencar mereka lakukan. pengeluaran iklan rokok diakui merupakan yang terbesar didunia dibandingkan dengan pengeluaran iklan oleh industri lainnya.
Pada 1989 Surgeon General (Pejabat Kesehatan Tertinggi) di Amerika Serikat menemukan ada 7 cara bagaimana iklan rokok mempengaruhi orang untuk merokok:
  • Mendorong anak - anak dan anak muda untuk mencoba - coba atau bereksperimen dengan rokok, tentu agar nantinya jadi pengguna tetap/reguler.
  • Mendorong yang sudah merokok untuk meningkatkan konsumsinya.
  • Dengan mengurangi niat dan motivasi perokok untuk berhenti.
  • Dengan mendorong mantan perokok untuk mengulanginya lagi.
  • Dengan melemahkan niat untuk mendiskusikan keburukan merokok ditingkat publik karena tingginya ketergantungan media massa pada iklan rokok.
  • Dengan membuat "bisu" pihak - pihak yang melakukan kontrol serius terhadap rokok karena tingginya kebergantungan organisasi - organisasi pada perusahaan rokok.
  • Melalui berbagai jalur iklan, promosi dan sponsorship. Perusahaan rokok menciptakan lingkungan yang ramah terhadap rokok dan menjadikan penggunaan rokok sebagai wajar dan dapat diterima. Pada saat sama, peringatan tentang bahaya rokok justru diremehkan sehingga tidak punya dampak sama sekali.
 4. Keuntungan Negara
Berbeda di masing - masing negara, industri rokok juga menjadi penyumbang terbesar pendapatan negara disektor pajak. Pajak rokok menjadi tulang punggung penerimaan negara. Jelas ini mengikat negara itu dalam jeratan industri rokok.
Bayangkan saja, tiap tahun industri rokok menyumbang jumlah yang signifikan terhadap APBN. Menurut laporan terakhir, pemerintah berencana menargetkan pendapatan cukai rokok sebesar Rp. 27,64 trilyun pada tahun 2003 dari sebelumnya Rp. 22,35 trilyun pada APBN 2002. Suatu jumlah yang fantastis.
Negara memang mendapatkan keuntungan besar dari industri rokok. Tetapi keuntungan itu harus dibayar mahal dengan tunduknya negara pada sebagian besar kemauan industri ini.